Kematian yang Indah


Khalid bin Walid, panglima perang Islam semasa Rasulullah SAW, bercita-cita mati syahid di medan perang. Allah ternyata berkehendak lain. Pahlawan legendaris yang digelari Saifullah (pedang Allah) itu justru meninggal dalam kesendirian di kamarnya. Bagi kaum Muslimin, mati syahid dalam pertempuran melawan musuh-musuh Islam, memang, terasa gagah. Heroik dan dramatis. Mati syahid, mati saat berjihad membela kebenaran di jalan Allah dan demi memperoleh ridha Allah, bukan hanya kematian yang indah, tapi juga mulia; memenuhi janji Allah untuk hidup abadi di sisi-Nya.

Allah berfirman, ''Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.'' (Ali 'Imran ayat 169-170). 

Itulah salah satu sebab mengapa banyak orang terpanggil untuk berjihad di jalan Allah dan bercita-cita mati syahid. Persoalannya, jihad itu bukan hanya berperang melawan musuh-musuh Islam seperti di zaman Khalid bin Walid dulu. Istilah jihad, tulis Dr M Quraish Shihab dalam Wawasan Alquran, sering disalahpahami atau dipersempit artinya.


Alquran mengisyaratkan jihad sebagai perjuangan melawan kebatilan. Sepanjang hayat manusia, bahkan sampai kiamat kelak, dituntut untuk berjuang melawan segala bentuk kebatilan. ''Al-jihad madhin ila yaum al-qiyamah.'' (jihad, perjuangan, terus berlanjut sampai hari kiamat). Jihad itu banyak bentuk dan macamnya. Begitu pula kebatilan. Jihad di jalan-Nya juga bukan hanya perang secara fisik melawan kebatilan yang berada di luar, tapi juga di dalam diri kita sendiri. 

Dalam surat At-Taubah ayat 24, Allah berfirman, ''Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'.'' 

Ayat tersebut menunjukkan keutamaan berjihad di jalan Allah, seperti keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tak ada kata pedang, senjata, atau bau darah di dalamnya. Setiap Muslim, apa pun profesi dan pekerjaannya, yang menegakkan kebenaran demi Allah, punya kesempatan yang sama untuk berjihad.

Para pemberani yang kukuh dan teguh melawan kebatilan, kezaliman, dan kebiadaban seperti Munir (almarhum), misalnya, insya Allah, termasuk orang-orang yang lulus menempuh ujian, dengan segala kemampuan, kesabaran, dan ketabahannya. Jihad adalah cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Orang yang tahan uji seperti itu, kalaupun gugur di jalan Allah, ia menempuh kematian yang indah. Seperti kata Allah, ia tidak mati, bahkan hidup di sisi Allah dengan mendapat rezeki-Nya. Wallahu a'lam. 

Rebutlah Gelar Wanita Sholehah

Pertama-tama adalah mesti engkau sadari, bahwa sesungguhnya aku tak akan menilai kecantikan wajahmu dibalik jilbab yan engkau kenakan, serta harta yang kau miliki sebagai daya tarik untuk menikahimu. Tapi kecantikan hati, perilaku, serta ketaatanmu kepada Dienul Islam itu yang utama. Memang hal ini sangat musykil di zaman yang telah penuh dengan noda-noda hitam akibat perbuatan manusia, sehingga wanita-wanitanya sudah tidak malu lagi untuk menjual kecantikannya dan berlomba-lomba memperlihatkan aurat dengan sebebas-bebasnya demi memuaskan hawa nafsu jahatnya. Namun itulah yang diajarkan Rasulullah SAW, kepada kita melalui haditsnya :

“Janganlah engkau peristrikan wanita karena hartanya, sebab hartanya itu menyebabkan mereka sombong. Dan jangan pula kamu peristrikan wanita karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikannya itu dapat menghinakan dan merendahkan martabat mereka sendiri. Namun peristrikan wanita atas dasar Diennya. Sesungguhnya budak hitam legam kulitnya tetapi Dienya lebih baik, lebih patut kamu peristrikan“. (HR. Bukhori)

Dan Allah pun tak akan melihat kebagusan wajah dan bentuk jasadmu. Tapi Dia menilai hati dan amal yang kau lakukan. Hendaknya engkau yakin bahwa wanita-wanita salafusshaleh adalah panutanmu, yang telah mendapat bimbingan dari nabi Muhammad SAW.

Contohlah Ummu Khomsa yang tersenyum gembira mendengar anak-anaknya gugur dalam medan pertempuran. Tentunya engkau heran, mengapa seorang ibu seperti itu ? jawabnya adalah karena ia yakin bahwa jannah telah menanti anaknya di akhirat, sedangkan engkau tahu, tak seorangpun yang tidak menginginkan akhir hidup di tempat yang penuh kenikmatan itu.

Katakanlah kepada anak-anakmu kelak :
…janganlah engkau bimbang dan ragu wahai anakku, kalau kamu syahid daripada sibuk mengumpulkan hartadan memburu pangkat. Maka kalau kamu ingin termasuk ke dalam golongan-golongan pejuang ISLAM yang benar-benar memperjuangkan hak Allah dan Rasul-Nya. Serahkan dirimu dan ketaqwaan yang kuat dan tanamkan pula dalam hatimu iman serta keinginan untuk menemuin-Nya secara syahid. Bayangkanlah bahwa jannah sedang menanti, bersama para bidadari yang sedang berhias menanti kekasih-kekasihnya, yaitu kamu sendiri. Seperti Firman Allah :

“Dan didalam Jannah itu ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik” (QS 56 : 22-23) Ajarkanlah pada anak-anak kita kelak, bahwa hidup dalam ISLAM tidak berarti mencari kenikmatan semu di dunia ini sehingga mereka bersenang-senang didalamnya dan lupa akan Akhirat. Padahal Rasulullah mengajarkan “ Addunya mazra’atul akhiroh (Dunia adalah ladangnya akhirat). Jadi dunia bukan tujuan akhir, tapi hanya sekedar jembatan untuk menuju kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal sehingga mereka mengerti bahwa mencari keridhoan Allah berarti pengorbanan yang terus menerus, Seperti Firman-Nya :

“ Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah maha penyantun kepada hamba-hambanya”. (QS. Al Baqarah : 207)

Akhirnya merekapun tahu bahwa jalan yang mereka pilih itu tidak menjanjikan harta di dunia ini yang banyak, rumah mewah, kendaraan yang banyak, atau kasur-kasur yang empuk, pangkat dan wanita, tapi jalan mereka semua adalah jalan yang penuh dengan duri-duri cobaan serta seribu datu macam tantangan. Karena Allah tidak akan memberi Jannah kepada kita dengan harga yang murah.

Berdo’alah kepada-Nya agar engkau lahirkan kelak dari rahimmu seorang anak pewaris perjuangan nabi-nabi-Nya yang senantiasa mereka mendo’akan kita. Didiklah mereka agar taat dan berbuat baik kepada kita serta tidak menyekutukan Allah, seperti yang diwasiatkan Luqman kepada anak-anaknya (31:31). Fahamkan mereka bahwa pewaris perjuangan Rasul dan Nabi bukanlah berarti mereka hanya menjadi pejuang di medan jihad, tapi juga seorang abid (zuhud) di malam hari. Anak kita kelak adalah amanah dari-Nya oleh sebab itu Allah akan murka seandainya kita menyia-nyiakannya. Pembentukan pribadi anak itu sangat tergantung kepada kita yang mendidiknya. Apakah ia akan menjadi orang yang beriman atau sebaliknya. Hendaklah engkau perhatikan makanan untuk mereka, pergaulannya serta pilihkan pendidikan yang mereka ikuti.

Jadilah engkau seperti Siti Maryam yang dapat mendidik Isa a.s. di tengah-tengah cemoohan dan cacian masyarakat. Atau Siti Asiyah(istri fir'aun) yang dapat memupuk keimanan Musa a.s. di dalam istana yang penuh dengan kedurhakaan dan kekufuran. Kemudian Masyitoh yang mampu memantapkan hati anak-anaknya walaupun harus menghadapi air yang mendidih demi kebenaran. Atau deperti Siti Khadijah R.ha. Aisyah R.ha, Sayidina Fatimah R.ha yang membesarkan anak-anaknya di tengah-tengah kemiskinan.

Bila engkau telah memahami tugas terhadap anak-anakmu dalam Islam, maka mudah-mudahan Allah akan memberkahi ktia dengan memberikan anak-anak yang sholeh, yang bersedia mengorbankan nyawanya demi mematuhi perintah Allah, seharusnyalah engkau faham juga bahwa dunia ini adalah perhiasan dan sebaik baiknya perhiasan adalah wanita sholehah.

Dan salah satu ciri yang harus engkau miliki jika ingin menjadi wanita sholehah dan bersedia untuk taat terhadap suamimu kelak seperti Firman-Nya dalam surat An-Nisaa :34 bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita dan istri yang baik adalah mereka yang setia (taat) kepada suami dan selalu memelihara kehormatannya selama suaminya tidak ada di rumah.

Hendaklah engkau berbeda dengan wanita-wanita saat ini yang benyak melalaikan suami dan anak-anaknya, mereka lebih sibuk dengan karir, arisan, undangan, atau menyia-nyiakan uang dan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, serta cenderung pamer wajah dan aurat kepada yang bukan muhrimnya. Carilah ridha suami dengan cara-cara yang telah diyariatkan Islam, karena Rasulullah telah bersabda :

“Wahai Siti Fatimah, kalau engkau mati dalam keadaan Ali tidak ridha padamu, niscaya aku ayahandamu tidak akan menyolatkanmu“.

Jadilah engkau perhiasan yang tinggi nilainya di dalam rumah tangga, sumber penyejuk dan kebahagiaan hati suami, berhiaslah engkau untuk menyenangkan suami, jagalah hatinya agar engkau tak menyakiti dia. Walaupun dengan hal-hal yang kecil. Katakan kepadaku jika akan berangkat mencari nafkah :

“Wahai suamiku carilah rezeki yang halal disisi Allah, janganlah engkau pulang membawa rezeki yang haram untuk kami. Kami rela berlapar dan hidup susah dengan makanan yang halal.”

Dan janganlah engkau cegah, jika aku hendak meninggalkanmu berhari-hari karena memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Tabahlah seperti tabahnya Siti Hajar dan Ismail yang ditinggalkan Ibrahim a.s. ditengah padang pasir yang tandus. Jika aku mengikuti jejak yasir, maka ikutilah di belakangku sebagai sumayyah, bila kukatakan kepadamu “perjuangan itu pahit” maka jawablah olehmu “Jannah itu Manis”

Sudah kiranya yang ingin aku sampaikan padamu, hendaklah engkau pahami dan ikuti seperti yang telah aku tunjukkan kepadamu tapi harus diingat bahwa engkau melakukannya karena Allah bukan karena aku, semoga Allah meridhoi kita dan memberi kemudahan dalam mengikuti petunjuknya, amin.

Hapuslah Air Mata di Pipi, Hilangkan Lara di Hati

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.




Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

Duhai...
Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Letih...
Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.

Duhai ukhti sholehah...
Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.

Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tausyiah-lah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

Sabarlah ukhti sholehah...
Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.

Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri.

Semoga. Wallahua'lam bi shawab.

Konsep Ta’aruf & Pembentukan Keluarga Dalam Tinjauan Psikologi Islam


     Pada dasarnya manusia tertarik pada lawan jenisnya karena perasaan ingin bersama, berkenalan atau saling menukar informasi, dsb. Kondisi ini biasanya muncul ketika manusia melihat dan memandang lawan jenisnya yang berbeda dengannya; misalnya, keadaan fisik yang ayu, molek, cantik atau gagah, ganteng dan tampan.  Hasil pandangan mata itu, kemudian menjadi hayalan manusia dengan kesimpulan pikiran; “bila”, “andaikata”, “seandainya” aku bersama dia, kan dapat curhat, berinteraksi dan berkomunikasi, sepertinya cukup menyenangkan hidup ini. Konteks inilah lambat laun yang dilandasi niat baik untuk “memiliki” secara fisik seseorang dalam kehidupan akan berubah kepada keadaan yang bersifat psikologis, yaitu suka dalam bentuk suasana hati yang mendalam, cinta dan kasih sayang hingga berkomitmen untuk membentuk keluarga. Ketertarikan manusia terhadap manusia lain (laki-laki atau perempuan) dalam realitas adalah hal yang lumrah karena manusia adalah makhluk yang keinginan (homo volens), begitu pandangan kaum psikoanalisis.

Di sisi lain, para ahli –utamanya psikolog sosial– menemukan adanya “sifat tertentu” dalam diri manusia yang menyebabkan manusia tertarik kepada orang lain.

Sifat tersebut biasanya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: pertama, faktor situasi, misalnya; kondisi geografis, lingkungan, budaya, bahasa, agama, dsb. Kedua, faktor  kepribadian, seperti umur, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, harga diri, selera, dsb. Namun, dari sejumlah variabel yang berlainan tersebut dalam aplikasi interaksi sosial dan lain kasus di kehidupan ini dengan mudah dilanggar oleh individu sebagai akibat dari; daya tarik fisik, kedekatan, kemiripan dan keuntungan yang didapatkan individu yang bersangkutan. Sementara perspektif Islam, melihat ketertarikan manusia terhadap manusia lain dalam rangka mengaplikasikan konsep hablumminannas dalam realitas, sehingga dapat memakmurkan bumi ini sebagai wujud pengabdiannya kepada Allah SWT tidak terputus. Hal ini sesuai dengan gharizah fithriyyah (naluri) pada manusia, dimana antara lawan jenisnya saling butuh membutuhkan untuk menumpahkan rasa kasih sayang, dan sekaligus sebagai realisasi penyaluran kebutuhan biologisnya. Untuk mengarah kepada tujuan ini, maka manusia tertarik untuk mengenali lebih jauh orang lain sehingga merasa cocok dan puas dalam membentuk ikatan pernikahan. Karenanya selaras dengan konteks tersebut, tulisan ini hendak mendiskusikan konsep ta’arufhingga pembentukan keluarga menurut analisis psikologi Islam.

Pemahaman mengenai istilah ta’aruf hanya dikenal dalam sistem pendidikan Islam, yaituta’akhrafa –ya’krifu–ta’aruf, yang artinya: mengenal, saling mengenal, hendak mengetahui atau melakukan pendekatan hubungan (Louis Ma’luf, 1986). Berpijak pada makna ini, maka konsepta’aruf adalah suatu pendekatan hubungan yang dilakukan manusia untuk saling kenal mengenal (Mahmud Yunus, 1989). Konsep  ta’aruf merupakan suatu proses perkenalan antara dua insan yang dibingkai dengan akhlak yang benar, yang di dalamnya ada aturan main yang melindungi kedua pihak dari pelanggaran berperilaku atau maksiat (Jundy/Majalah Izzah, No. 30/Th. 3, 19 Juli—18 Agustus 2002 ).
Bermuara pada pandangan ini, maka konsep ta’aruf dapat dimengerti sebagai konteks operasional islamis nan uptudate yang menggantikan kata “pacaran” dalam mengenal calon pasangan sebelum membentuk keluarga.

Analogi konteks ini, merupakan suatu jalan yang ditempuh manusia dalam upaya saling kenal mengenal antara sama lain sebelum menikah. Kebermaknaan konsep ta’aruf dalam ajaran agama Islam diawali dengan usaha saling mengenal antar satu sama lain, meskipun berbeda bahasa, suku, dan bangsa. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an berbunyi:
Artinya:  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujaraat: 13)


Sesuai dengan firman Allah SWT ini, sesungguhnya manusia dapat mengambil pelajaran yang berharga bahwa usaha dan dorongan untuk saling berinteraksi, berkomunikasi dan membentuk pergaulan diantara sesama adalah usaha konsep ta’aruf dalam berbagai dimensi pengertian, baik dalam memperkokoh ikatan persaudaraan antar manusia, membentuk tali silaturrahmi, memperbanyak sahabat maupun dalam membina hubungan erat untuk membentuk keluarga. Selain itu, penjelasan al-Qur’an dalam surat Al-Hujaraat ayat 13 tersebut, juga perintah agar manusia dapat merealisasikan konsepsi hablumminannas dipermukaan bumi ini. Keadaan yang demikian memang sengaja diatur dan dikehendaki oleh Allah SWT, agar dengan cara tersebut keberlanjutan hidup dan kehidupan umat manusia tidak terputus ditelan zaman dan tidak punah di makan waktu sampai pada saat Yang Maha Kuasa Pencipta jagad raya ini menghendaki berakhirnya kehidupan ini (kiamat). Namun, bagaimana metode aplikasi konsepta’aruf yang digariskan Islam, tentu saja melalui jalan yang benar dan lurus yang berlandaskan pada sikap hidup, perilaku dan tindakan yang baik dan mulia (akhlakul karimah). Dengan cara ini kehidupan keluarga yang akan dibentuk dapat merefleksikan wujud keta’atan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Khusus terkait dengan usaha manusia untuk membentuk keluarga, aplikasi konsep ta’aruf akan sangat memainkan peranan penting dalam kehidupan pribadi muslim sehingga kesimpulan akhir yang diambil masing-masing pihak dapat dijadikan key worddalam perjalanan kehidupan keluarga ke depan.
Sumarjati Arjoso (Sanusi, et.all, 1996), menggambarkan beberapa hal penting yang perlu diwacanakan dalam perkenalan melalui konsep ta’aruf sebelum mengambil keputusan untuk menikah, yaitu; (1) perkenalan tentang diri pribadi masing-masing, (2) mengenal keluarga calon pasangan, (3) mengenal seks (dalam artian kesehatan dan kesucian kehormatan) calon pasangan, (4) mengenal cita-cita kehidupan pasangan dan mengenal agama (keyakinan) yang dianut oleh calon pasangan, serta (5) mengenal adat istiadat dan kebudayaan calon pasangan.

Lebih jauh, Sumarjati Arjoso (Sanusi, et.all, 1996) memberi alasan bahwa topik-topik tersebut dimentalkan karena suatu perkawinan bukan semata-mata memadukan jiwa dan tubuh dua insan yang berbeda jenis saja dalam rangka menyalurkan kebutuhan biologis atau hidup bersama, namun juga menyangkut suatu rangkaian tali hubungan antara anggota keluarga besar dan jaringan yang lebih besar lagi, yakni masyarakat. Dalam bahasa berbeda, KH Rahmad Abdullah, menyatakan bahwa dengan saling kenal mengenal calon oleh masing-masing pasangan secara mendalam, maka pengertian, pengetahuan dan keputusan untuk menyatu dalam suatu ikatan suci (pernikahan) akan menjadi bermakna sebagai bagian dari ibadah untuk menjalankan perintah agama (Majalah Izzah, No. 30/Th. 3, 19 Juli—18 Agustus 2002). Di sisi lain, perlu diketahui juga bahwa ta’aruf bukan satu-satunya harga mati bagi seseorang untuk melangsungkan perkawinan, namun konsep ta’aruf akan memberi alternatif bagi seseorang agar dapat mengenali dan mengetahui kepribadian, adat istiadat, latar belakang budaya, kondisi sosial ekonomi, tujuan pembentukan keluarga atau keadaan keluarga masing-masing pasangan sehingga keputusan final untuk menikah tidak menjadi beban mental di kemudian hari. Proses pengenalan yang diajarkan oleh ta’aruf tidak ada paksaan dan pemaksaan, yang ada adalah realitas dan kenyataan. Bila sesuai atau cocok dilanjutkan ke jenjang pernikahan, dan bila tidak merasa cocok tidak menjadi suatu hinaan yang menyebabkan pasangan merasa malu atau dipermalukan.

Dalam penerapannya, bagaimana konsep ta’aruf dilaksanakan untuk mencapai suau hasil yang bermakna dan bernilai ibadah? Secara historis dan praktik ta’aruf tidak memiliki aturan operasional yang disepakati bersama oleh para ulama dan masyarakat muslim, yang ada adalah bagaimana batasan-batasan esensial yang disepakati sehingga tidak menyalahi hukum agama dan hukum sosial. Dalam praktik ta’aruf yang sering terjadi di realitas masyarakat muslim memiliki banyak variasi model aplikasi (graduasi model ta’aruf),  seperti perkenalan melalui sahabat, pengawasan orang tua atau orang kepercayaan keluarga pasangan, pertemuan sendiri tanpa disengaja, berkenalan melalui suatu kegiatan sosial, perjodohan, dan lain sebagainya.
Karenanya dengan aplikasi konsep ta’aruf yang benar sesuai anjuran Islam diharapkan manusia dapat menggapai suatu pengertian bahwa perkawinan adalah benar-benar suatu ikatan suci dalam mengembangkan kehidupan umat manusia dipermukaan bumi ini. Selain itu, juga akan memberi tawaran pada masing-masing calon untuk memahami, menilai, dan menganalisis secara objektif dan subjektif sehingga kesiapan untuk menerima pasangan menjadi pilihan yang tepat.  Proses perkenalan yang dilakukan sebetulnya bertujuan untuk saling mengetahui sejauhmana kesungguhan niat masing-masing pihak untuk berkeluarga, mengenal kepribadian antar pasangan dan menjaga hubungan persaudaraan di antara sesama muslim. Karena itu, nilai-nilai ta’aruf yang berlandaskan pada konteks ajaran Islam akan membuka wacana dan wawasan baru bagi setiap pasangan bahwa perkawinan adalah bukanlah kehidupan sesaat, namun kehidupan yang penuh tanggung jawab selama hayat dikandung badan.


Mengapa Aku Harus Menikahimu ?


Mengapa Aku Harus Menikahimu?

Ini adalah kisah seorang pemuda tampan yang shalih dalam memilih calon istri, kisah ini tak bisa dipastikan fakta atau tidak, namun semoga pelajaran yang ada didalamnya dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama Muslimah yang belum menikah semoga menjadi renungan.
Ia sangat tampan, taat (shalih), berpendidikan baik, orangtuanya menekannya untuk segera menikah.
Mereka, orangtuanya, telah memiliki banyak proposal yang datang, dan dia telah menolaknya semua. Orangtuanya berpikir, mungkin saja ada seseorang yang lain yang berada di pikirannya.
Namun setiap kali orangtuanya membawa seorang wanita ke rumah, pemuda itu selalu mengatakan “dia bukanlah orangnya!”

Pemuda itu menginginkan seorang gadis yang relijius dan mempraktekkan agamanya dengan baik (shalihah). Suatu malam, orangtuanya mengatur sebuah pertemuan untuknya, untuk bertemu dengan seorang gadis, yang relijius, dan mengamalkan agamanya.

Pada malam itu, pemuda itu dan seorang gadis yang dibawa orangtuanya, dibiarkan untuk berbicara, dan saling menanyakan pertanyaan satu sama lainnya, seperti biasa.
Pemuda tampan itu, mengizinkan gadis itu untuk bertanya terlebih dahulu.
Gadis itu menanyakan banyak pertanyaan terhadap pemuda itu, dia menanyakan tentang kehidupan pemuda itu, pendidikannya, teman-temannya, keluarganya, kebiasaannya, hobinya, gaya hidupnya, apa yang ia sukai, masa lalunya, pengalamannya, bahkan ukuran sepatunya…
Si pemuda tampan menjawab semua pertanyaan gadis itu, tanpa melelahkan dan dengan sopan. Dengan tersenyum, gadis itu telah lebih dari satu jam, merasa bosan, karena ia sedari tadi yang bertanya-tanya, dan kemudian meminta pemuda itu, apakah ia ingin bertanya sesuatu padanya?
Pemuda itu mengatakan, baiklah, Saya hanya memiliki 3 pertanyaan. Gadis itu berpikir girang, baiklah hanya 3 pertanyaan, lemparkanlah.

Pemuda itu menanyakan pertanyaan pertama:
Pemuda: Siapakah yang paling kamu cintai di dunia ini, seseorang yang dicintai yang tidak ada yang akan pernah mengalahkannya?
Gadis: Ini adalah pertanyaan mudah, ibuku. (katanya sambil tersenyum)

Pertanyaan ke-2
Pemuda: Kamu bilang, kamu banyak membaca Al-Qur’an, bisakah kamu memberitahuku surat mana yang kamu ketahui artinya?
Gadis: (Mendegar itu wajah si Gadis memerah dan malu), aku belum tahu artinya sama sekali, tetapi aku berharap segera mengetahuinya insya Allah, aku hanya sedikit sibuk.

Pertanyaan ke-3
Pemuda: Saya telah dilamar untuk menikah, dengan gadis-gadis yang jauh lebih cantik daripada dirimu, Mengapa saya harus menikahimu?
Gadis: (Mendengar itu si Gadis marah, dia mengadu ke orangtuanya dengan marah), Aku tidak ingin menikahi pria ini, dia menghina kecantikan dan kepintaranku. 
Dan akhirnya orangtua si pemuda sekali lagi tidak mencapai kesepakatan menikah. Kali ini orangtua si pemuda sangat marah, dan mengatakan “mengapa kamu membuat marah gadis itu, keluarganya sangat baik dan menyenangkan, dan mereka relijius seperti yang kamu inginkan. Mengapa kamu bertanya (seperti itu) kepada gadis itu? beritahu kami!”
  1. Pemuda itu mengatakan, Pertama aku bertanya kepadanya, siapa yang paling kamu cintai? dia menjawab, ibunya. (Orangtuanya mengatakan, “apa yang salah dengan itu?”) pemuda itu menjawab, “Tidaklah dikatakan Muslim, hingga dia mencintai Allah dan RasulNya (shalallahu’alaihi wa sallam) melebihi siapapun di dunia ini”. Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) lebih dari siapapun, dia akan mencintaiku dan menghormatiku, dan tetap setia padaku, karena cinta itu, dan ketakutannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kami akan berbagi cinta ini, karena cinta ini adalah yang lebih besar daripada nafsu untuk kecantikan.

  2. Pemuda itu berkata, kemudian aku bertanya, kamu banyak membaca Al-Qur’an, dapatkan kamu memberitahuku arti dari salah satu surat? dan dia mengatakan tidak, karena belum memiliki waktu. Maka aku pikir semua manusia itu mati, kecuali mereka yang memiliki ilmu. Dia telah hidup selama 20 tahun dan tidak menemukan waktu untuk mencari ilmu, mengapa Aku harus menikahi seorang wanita yang tidak mengetahui hak-hak dan kewajibannya, dan apa yang akan dia ajarkan kepada anak-anakku, kecuali bagaimana untuk menjadi lalai, karena wanita adalah madrasah (sekolah) dan guru terbaik. Dan seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk Allah, tidak akan memiliki waktu untuk suaminya.

  3. Pertanyaan ketiga yang aku tanyakan kepadanya, bahwa banyak gadis yang lebih cantik darinya, yang telah melamarku untuk menikah, mengapa Aku harus memilihmu? itulah mengapa dia mengadu, marah. (Orangtua si pemuda mengatakan bahwa itu adalah hal yang menyebalkan untuk dikatakan, mengapa kamu melakukan hal semacam itu, kita harus kembali meminta maaf). Si pemuda mengatakan bahwa Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) mengatakan “jangan marah, jangan marah, jangan marah”, ketika ditanya bagaimana untuk menjadi shalih, karena kemarahan adalah datangnya dari setan. Jika seorang wanita tidak dapat mengontrol kemarahannya dengan orang asing yang baru saja ia temui, apakah kalian pikir dia akan dapat mengontrol amarah terhadap suaminya??
Pelajaran akhlak dari kisah tersebut adalah, pernikahan berdasarkan:
  • Ilmu, bukan hanya penampilan (kecantikan)
  • Amal, bukan hanya berceramah atau bukan hanya membaca
  • Mudah memaafkan, tidak mudah marah
  • Ketaatan/ketundukan/keshalihan, bukan sekedar nafsu
Dan memilih pasangan yang seharusnya:
  • Mencitai Allah lebih dari segalanya
  • Mencintai Rasulullah (shalallahu ‘alai wa sallam) melebihi manusia manapun
  • Memiliki ilmu Islam, dan beramal/berbuat sesuai itu.
  • Dapat mengontrol kemarahan
  • Dan mudah diajak bermusyawarah, dan semua hal yang sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam.
Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Wanita dinikahi karena empat hal, [pertama] karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang agamanya baik, jika tidak maka kamu akan tersungkur fakir”. (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)

Muslimahzone.com

Aku Ingin Segera Menikah Demi Menjaga Kesucian Diri


Aku Ingin Segera Menikah Demi Menjaga Kesucian Diri
Setiap insan pasti ingin melengkapi hidupnya dengan menikah bersama orang yang dicintai, sungguh aneh jika ada orang yang tak ingin menikah. Namun sering kali banyak rintangan yang harus dihadapi ketika hendak menikah. Itu adalah ujian dari Allah.

Setiap orang pasti menghadapi ujian yang berbeda-beda. Ada yang masalahnya belum mampu secara materi, karena orangtua, pekerjaan, masih sekolah/kuliah, jodoh yang tak kunjung datang, dan sebagainya.
Munculnya keinginan untuk menikah adalah hal yang patut disyukuri, sebab dengan menikah hidup seseorang menjadi lebih lengkap dan tentunya menikah adalah sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat dianjurkan. Apatah lagi jika niatan menikah muncul karena ingin menjaga kesucian diri. Menikah adalah solusi terbaik untuk menyelamatkan diri dari hal-hal yang bisa menjerumuskan ke dalam perbuatan terlarang.

Namun kembali lagi, berbagai rintangan yang harus dihadapi ketika ingin melangkah ke jenjang pernikahan sering membuat seseorang menjadi gundah gulana.
Tetapi jangan sedih apalagi putus asa, ada janji yang indah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disampaikan melalui lisan Rasul-Nya, bahwa Allah akan menolong mereka yang menikah demi menjaga kesucian dirinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“…janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Qs. Az-Zumar: 53)
Untuk itu, tetap berusaha dan jangan berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah. Berusaha dengan jalan-jalan yang halal, berusaha memperbaiki diri dan berusaha banyak melakukan amal shalih untuk mendekatkan diri kepada-Nya, karena ini adalah sebaik-baik jalan agar diberi pertolongan oleh Allah. Dan jangan lupa berdo’a kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan berprasangka baik kepada-Nya bahwa Dia pasti akan mengabulkan do’a orang yang memohon kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur: 32)
“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Qs. Ghafir: 60)
Insya Allah, jika ikhlas berniat ingin menikah untuk menjaga kesucian diri, kita termasuk orang yang dijanjikan akan ditolong oleh Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR.at-Tirmidzi, no. 1655 dan an-Nasa-I, no. 3120, dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani).
Wallahu a’lam

Muslimahzone.com

Kepastian Ambruknya Dollar dan System Fiat Money

A.     Tujuan 
  • Membuktikan permasalahan-permasalahan yang diakibatkan oleh penggunaan uang dollar 
  • Membandingkan keunggulan yang diberikan oleh uang dollar, dan keunggulan yang diberikan oleh uang dinar dirham. 
  • Memberikan fakta tentang kondisi yang sedang dihadapi uang dollar dengan menggunakan system fyat money 
  • Menganalisis terhadap kondisi yang dihadapi oleh Negara Amerika yang menggunakan uang dollar.
  • Membuktikan eksistensi kekuatan mata uang dollar Amerika Serikat yang digunakan oleh Negara Amerika, sebagai mata hard currency. 
B.     Latar Belakang 
  • Data-data perekonomian AS terkini mengungkapkan terdapat masalah. Yaitu anggaran belanja Negara AS mengalami deficit yang sangat besar, pada tahun 2008 pendapatan AS terkumpul US 2,52 triliun , dimana 81 % diperoleh melalui pajak. Sedangkan anggaran belanja mencapai US 2,98 triliun. Artinya ada deficit sebesar US455 miliar.angka defist itu lebih banyak diakibatkan untuk menutupi anggaran perangnya yang sangat besar. 
  • Pada tahun 2009 diperkirakan AS hanya bisa mengeksport sebesar US 1,377 triliun, tetapi nilai impornya jauh lebih besar, yaitu diprediksikan mencapai angka US 2,19 triliun.ini berarti ada deficit sebesar 800 miliar.
  • Amerika juga mempunyai hutang Negara yang sangat besar, mencapai US 10,6 triliun. Meski total hutang AS masih dibaawh nilai PDB, akan tetapi angka hutang ini akan semakin besar setelah banyak orang yang gagal bayar dalam krisis perumahan AS.dan juga bangkrutnya perusahaan-perusahaan besar akibat tidak mampu menjaga liquiditas keuangannya. 
  • Dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi Oleh Amerika, Negara tersebut mencari hutang , dan ditempuh dengan cara mengeluarkan sertifikat (surat hutang). Bank sentral menjadikan sertifikat hutang AS sebagai bagian dari cadangan devisa Negara namun, yang menjadi persoalan adalah melemahnya nilai dollar AS terhadap mata uang Negara-negara lain yang mengakibatkan minat untuk membeli sertifikat hutang pemerintah AS terhatan juga menurun drastic. 
C.     Manfaat 
Dari pemaparan diatas, bahwasannya dapat diteliti penerbitan mata uang kertas yang bila tidak ditopang dengan menggunakan logam emas dan perak, maka akan terjadi banyak permasalahan yang dihadapi, seperti terjadinya inflasi atau deflasi yang sewaktu-waktu akan berubah ubah, tidak seperti menggunakan mata uang dinar dirham yang dari 1000 tahun yang lalu nilainya tidak pernah mengalami inflasi atau deflasi bahkan nilainya tetap stabil sampai saat ini.

Semakin ambruknya nilai mata uang dollar hanya tinggal menunggu waktu saja. Runtuhnya perekonomian dan keuangan AS, bukan hanya akan menghancurkan AS sendiri, tetapi juga akan berdampak terhadap Negara-negara lain, terutama yang menggunakan mata uang dollar atau yang berinvestasi menggunakan dollar, sebab mata uang lain seperti euro, yen atau puondsterling  dan dll, mata uang ini pun sama-sama berbasis pada system fiat money, yang akan menimbulkan gelembung keuangan pada sector non rill sehingga lama kelamaan akan pecah, dan bila ini terjadi, dampak yang dihadapi pun akan dirasakan oleh seluruh dunia. Sebab-sebab terjadinya krisis ekonomi seperti ini pun tidak lain dan tidak bukan yang disebabkan oleh system ekonomi kapitalisme.

Ekonomi kapitalisme ini pun mengusung bahwa pemilik modalah yang memiliki kekuasaan, akibat ketidak merataan distribusi keuangan sehingga mengakibatkan banyak terjadinya kemiskinan dan rakyat kecil yang semakin melarat, karena perputaran keuangan pun banyak berkutat pada sector non rill yang dikuasai oleh para pemilik modal.

Jumat, 14 Desember 2012

Kematian yang Indah


Khalid bin Walid, panglima perang Islam semasa Rasulullah SAW, bercita-cita mati syahid di medan perang. Allah ternyata berkehendak lain. Pahlawan legendaris yang digelari Saifullah (pedang Allah) itu justru meninggal dalam kesendirian di kamarnya. Bagi kaum Muslimin, mati syahid dalam pertempuran melawan musuh-musuh Islam, memang, terasa gagah. Heroik dan dramatis. Mati syahid, mati saat berjihad membela kebenaran di jalan Allah dan demi memperoleh ridha Allah, bukan hanya kematian yang indah, tapi juga mulia; memenuhi janji Allah untuk hidup abadi di sisi-Nya.

Allah berfirman, ''Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.'' (Ali 'Imran ayat 169-170). 

Itulah salah satu sebab mengapa banyak orang terpanggil untuk berjihad di jalan Allah dan bercita-cita mati syahid. Persoalannya, jihad itu bukan hanya berperang melawan musuh-musuh Islam seperti di zaman Khalid bin Walid dulu. Istilah jihad, tulis Dr M Quraish Shihab dalam Wawasan Alquran, sering disalahpahami atau dipersempit artinya.


Alquran mengisyaratkan jihad sebagai perjuangan melawan kebatilan. Sepanjang hayat manusia, bahkan sampai kiamat kelak, dituntut untuk berjuang melawan segala bentuk kebatilan. ''Al-jihad madhin ila yaum al-qiyamah.'' (jihad, perjuangan, terus berlanjut sampai hari kiamat). Jihad itu banyak bentuk dan macamnya. Begitu pula kebatilan. Jihad di jalan-Nya juga bukan hanya perang secara fisik melawan kebatilan yang berada di luar, tapi juga di dalam diri kita sendiri. 

Dalam surat At-Taubah ayat 24, Allah berfirman, ''Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'.'' 

Ayat tersebut menunjukkan keutamaan berjihad di jalan Allah, seperti keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tak ada kata pedang, senjata, atau bau darah di dalamnya. Setiap Muslim, apa pun profesi dan pekerjaannya, yang menegakkan kebenaran demi Allah, punya kesempatan yang sama untuk berjihad.

Para pemberani yang kukuh dan teguh melawan kebatilan, kezaliman, dan kebiadaban seperti Munir (almarhum), misalnya, insya Allah, termasuk orang-orang yang lulus menempuh ujian, dengan segala kemampuan, kesabaran, dan ketabahannya. Jihad adalah cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Orang yang tahan uji seperti itu, kalaupun gugur di jalan Allah, ia menempuh kematian yang indah. Seperti kata Allah, ia tidak mati, bahkan hidup di sisi Allah dengan mendapat rezeki-Nya. Wallahu a'lam. 

Rabu, 12 Desember 2012

Rebutlah Gelar Wanita Sholehah

Pertama-tama adalah mesti engkau sadari, bahwa sesungguhnya aku tak akan menilai kecantikan wajahmu dibalik jilbab yan engkau kenakan, serta harta yang kau miliki sebagai daya tarik untuk menikahimu. Tapi kecantikan hati, perilaku, serta ketaatanmu kepada Dienul Islam itu yang utama. Memang hal ini sangat musykil di zaman yang telah penuh dengan noda-noda hitam akibat perbuatan manusia, sehingga wanita-wanitanya sudah tidak malu lagi untuk menjual kecantikannya dan berlomba-lomba memperlihatkan aurat dengan sebebas-bebasnya demi memuaskan hawa nafsu jahatnya. Namun itulah yang diajarkan Rasulullah SAW, kepada kita melalui haditsnya :

“Janganlah engkau peristrikan wanita karena hartanya, sebab hartanya itu menyebabkan mereka sombong. Dan jangan pula kamu peristrikan wanita karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikannya itu dapat menghinakan dan merendahkan martabat mereka sendiri. Namun peristrikan wanita atas dasar Diennya. Sesungguhnya budak hitam legam kulitnya tetapi Dienya lebih baik, lebih patut kamu peristrikan“. (HR. Bukhori)

Dan Allah pun tak akan melihat kebagusan wajah dan bentuk jasadmu. Tapi Dia menilai hati dan amal yang kau lakukan. Hendaknya engkau yakin bahwa wanita-wanita salafusshaleh adalah panutanmu, yang telah mendapat bimbingan dari nabi Muhammad SAW.

Contohlah Ummu Khomsa yang tersenyum gembira mendengar anak-anaknya gugur dalam medan pertempuran. Tentunya engkau heran, mengapa seorang ibu seperti itu ? jawabnya adalah karena ia yakin bahwa jannah telah menanti anaknya di akhirat, sedangkan engkau tahu, tak seorangpun yang tidak menginginkan akhir hidup di tempat yang penuh kenikmatan itu.

Katakanlah kepada anak-anakmu kelak :
…janganlah engkau bimbang dan ragu wahai anakku, kalau kamu syahid daripada sibuk mengumpulkan hartadan memburu pangkat. Maka kalau kamu ingin termasuk ke dalam golongan-golongan pejuang ISLAM yang benar-benar memperjuangkan hak Allah dan Rasul-Nya. Serahkan dirimu dan ketaqwaan yang kuat dan tanamkan pula dalam hatimu iman serta keinginan untuk menemuin-Nya secara syahid. Bayangkanlah bahwa jannah sedang menanti, bersama para bidadari yang sedang berhias menanti kekasih-kekasihnya, yaitu kamu sendiri. Seperti Firman Allah :

“Dan didalam Jannah itu ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik” (QS 56 : 22-23) Ajarkanlah pada anak-anak kita kelak, bahwa hidup dalam ISLAM tidak berarti mencari kenikmatan semu di dunia ini sehingga mereka bersenang-senang didalamnya dan lupa akan Akhirat. Padahal Rasulullah mengajarkan “ Addunya mazra’atul akhiroh (Dunia adalah ladangnya akhirat). Jadi dunia bukan tujuan akhir, tapi hanya sekedar jembatan untuk menuju kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal sehingga mereka mengerti bahwa mencari keridhoan Allah berarti pengorbanan yang terus menerus, Seperti Firman-Nya :

“ Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah maha penyantun kepada hamba-hambanya”. (QS. Al Baqarah : 207)

Akhirnya merekapun tahu bahwa jalan yang mereka pilih itu tidak menjanjikan harta di dunia ini yang banyak, rumah mewah, kendaraan yang banyak, atau kasur-kasur yang empuk, pangkat dan wanita, tapi jalan mereka semua adalah jalan yang penuh dengan duri-duri cobaan serta seribu datu macam tantangan. Karena Allah tidak akan memberi Jannah kepada kita dengan harga yang murah.

Berdo’alah kepada-Nya agar engkau lahirkan kelak dari rahimmu seorang anak pewaris perjuangan nabi-nabi-Nya yang senantiasa mereka mendo’akan kita. Didiklah mereka agar taat dan berbuat baik kepada kita serta tidak menyekutukan Allah, seperti yang diwasiatkan Luqman kepada anak-anaknya (31:31). Fahamkan mereka bahwa pewaris perjuangan Rasul dan Nabi bukanlah berarti mereka hanya menjadi pejuang di medan jihad, tapi juga seorang abid (zuhud) di malam hari. Anak kita kelak adalah amanah dari-Nya oleh sebab itu Allah akan murka seandainya kita menyia-nyiakannya. Pembentukan pribadi anak itu sangat tergantung kepada kita yang mendidiknya. Apakah ia akan menjadi orang yang beriman atau sebaliknya. Hendaklah engkau perhatikan makanan untuk mereka, pergaulannya serta pilihkan pendidikan yang mereka ikuti.

Jadilah engkau seperti Siti Maryam yang dapat mendidik Isa a.s. di tengah-tengah cemoohan dan cacian masyarakat. Atau Siti Asiyah(istri fir'aun) yang dapat memupuk keimanan Musa a.s. di dalam istana yang penuh dengan kedurhakaan dan kekufuran. Kemudian Masyitoh yang mampu memantapkan hati anak-anaknya walaupun harus menghadapi air yang mendidih demi kebenaran. Atau deperti Siti Khadijah R.ha. Aisyah R.ha, Sayidina Fatimah R.ha yang membesarkan anak-anaknya di tengah-tengah kemiskinan.

Bila engkau telah memahami tugas terhadap anak-anakmu dalam Islam, maka mudah-mudahan Allah akan memberkahi ktia dengan memberikan anak-anak yang sholeh, yang bersedia mengorbankan nyawanya demi mematuhi perintah Allah, seharusnyalah engkau faham juga bahwa dunia ini adalah perhiasan dan sebaik baiknya perhiasan adalah wanita sholehah.

Dan salah satu ciri yang harus engkau miliki jika ingin menjadi wanita sholehah dan bersedia untuk taat terhadap suamimu kelak seperti Firman-Nya dalam surat An-Nisaa :34 bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita dan istri yang baik adalah mereka yang setia (taat) kepada suami dan selalu memelihara kehormatannya selama suaminya tidak ada di rumah.

Hendaklah engkau berbeda dengan wanita-wanita saat ini yang benyak melalaikan suami dan anak-anaknya, mereka lebih sibuk dengan karir, arisan, undangan, atau menyia-nyiakan uang dan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, serta cenderung pamer wajah dan aurat kepada yang bukan muhrimnya. Carilah ridha suami dengan cara-cara yang telah diyariatkan Islam, karena Rasulullah telah bersabda :

“Wahai Siti Fatimah, kalau engkau mati dalam keadaan Ali tidak ridha padamu, niscaya aku ayahandamu tidak akan menyolatkanmu“.

Jadilah engkau perhiasan yang tinggi nilainya di dalam rumah tangga, sumber penyejuk dan kebahagiaan hati suami, berhiaslah engkau untuk menyenangkan suami, jagalah hatinya agar engkau tak menyakiti dia. Walaupun dengan hal-hal yang kecil. Katakan kepadaku jika akan berangkat mencari nafkah :

“Wahai suamiku carilah rezeki yang halal disisi Allah, janganlah engkau pulang membawa rezeki yang haram untuk kami. Kami rela berlapar dan hidup susah dengan makanan yang halal.”

Dan janganlah engkau cegah, jika aku hendak meninggalkanmu berhari-hari karena memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Tabahlah seperti tabahnya Siti Hajar dan Ismail yang ditinggalkan Ibrahim a.s. ditengah padang pasir yang tandus. Jika aku mengikuti jejak yasir, maka ikutilah di belakangku sebagai sumayyah, bila kukatakan kepadamu “perjuangan itu pahit” maka jawablah olehmu “Jannah itu Manis”

Sudah kiranya yang ingin aku sampaikan padamu, hendaklah engkau pahami dan ikuti seperti yang telah aku tunjukkan kepadamu tapi harus diingat bahwa engkau melakukannya karena Allah bukan karena aku, semoga Allah meridhoi kita dan memberi kemudahan dalam mengikuti petunjuknya, amin.

Hapuslah Air Mata di Pipi, Hilangkan Lara di Hati

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.




Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

Duhai...
Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Letih...
Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.

Duhai ukhti sholehah...
Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.

Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tausyiah-lah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.

Sabarlah ukhti sholehah...
Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.

Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri.

Semoga. Wallahua'lam bi shawab.

Senin, 10 Desember 2012

Konsep Ta’aruf & Pembentukan Keluarga Dalam Tinjauan Psikologi Islam


     Pada dasarnya manusia tertarik pada lawan jenisnya karena perasaan ingin bersama, berkenalan atau saling menukar informasi, dsb. Kondisi ini biasanya muncul ketika manusia melihat dan memandang lawan jenisnya yang berbeda dengannya; misalnya, keadaan fisik yang ayu, molek, cantik atau gagah, ganteng dan tampan.  Hasil pandangan mata itu, kemudian menjadi hayalan manusia dengan kesimpulan pikiran; “bila”, “andaikata”, “seandainya” aku bersama dia, kan dapat curhat, berinteraksi dan berkomunikasi, sepertinya cukup menyenangkan hidup ini. Konteks inilah lambat laun yang dilandasi niat baik untuk “memiliki” secara fisik seseorang dalam kehidupan akan berubah kepada keadaan yang bersifat psikologis, yaitu suka dalam bentuk suasana hati yang mendalam, cinta dan kasih sayang hingga berkomitmen untuk membentuk keluarga. Ketertarikan manusia terhadap manusia lain (laki-laki atau perempuan) dalam realitas adalah hal yang lumrah karena manusia adalah makhluk yang keinginan (homo volens), begitu pandangan kaum psikoanalisis.

Di sisi lain, para ahli –utamanya psikolog sosial– menemukan adanya “sifat tertentu” dalam diri manusia yang menyebabkan manusia tertarik kepada orang lain.

Sifat tersebut biasanya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: pertama, faktor situasi, misalnya; kondisi geografis, lingkungan, budaya, bahasa, agama, dsb. Kedua, faktor  kepribadian, seperti umur, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, harga diri, selera, dsb. Namun, dari sejumlah variabel yang berlainan tersebut dalam aplikasi interaksi sosial dan lain kasus di kehidupan ini dengan mudah dilanggar oleh individu sebagai akibat dari; daya tarik fisik, kedekatan, kemiripan dan keuntungan yang didapatkan individu yang bersangkutan. Sementara perspektif Islam, melihat ketertarikan manusia terhadap manusia lain dalam rangka mengaplikasikan konsep hablumminannas dalam realitas, sehingga dapat memakmurkan bumi ini sebagai wujud pengabdiannya kepada Allah SWT tidak terputus. Hal ini sesuai dengan gharizah fithriyyah (naluri) pada manusia, dimana antara lawan jenisnya saling butuh membutuhkan untuk menumpahkan rasa kasih sayang, dan sekaligus sebagai realisasi penyaluran kebutuhan biologisnya. Untuk mengarah kepada tujuan ini, maka manusia tertarik untuk mengenali lebih jauh orang lain sehingga merasa cocok dan puas dalam membentuk ikatan pernikahan. Karenanya selaras dengan konteks tersebut, tulisan ini hendak mendiskusikan konsep ta’arufhingga pembentukan keluarga menurut analisis psikologi Islam.

Pemahaman mengenai istilah ta’aruf hanya dikenal dalam sistem pendidikan Islam, yaituta’akhrafa –ya’krifu–ta’aruf, yang artinya: mengenal, saling mengenal, hendak mengetahui atau melakukan pendekatan hubungan (Louis Ma’luf, 1986). Berpijak pada makna ini, maka konsepta’aruf adalah suatu pendekatan hubungan yang dilakukan manusia untuk saling kenal mengenal (Mahmud Yunus, 1989). Konsep  ta’aruf merupakan suatu proses perkenalan antara dua insan yang dibingkai dengan akhlak yang benar, yang di dalamnya ada aturan main yang melindungi kedua pihak dari pelanggaran berperilaku atau maksiat (Jundy/Majalah Izzah, No. 30/Th. 3, 19 Juli—18 Agustus 2002 ).
Bermuara pada pandangan ini, maka konsep ta’aruf dapat dimengerti sebagai konteks operasional islamis nan uptudate yang menggantikan kata “pacaran” dalam mengenal calon pasangan sebelum membentuk keluarga.

Analogi konteks ini, merupakan suatu jalan yang ditempuh manusia dalam upaya saling kenal mengenal antara sama lain sebelum menikah. Kebermaknaan konsep ta’aruf dalam ajaran agama Islam diawali dengan usaha saling mengenal antar satu sama lain, meskipun berbeda bahasa, suku, dan bangsa. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an berbunyi:
Artinya:  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujaraat: 13)


Sesuai dengan firman Allah SWT ini, sesungguhnya manusia dapat mengambil pelajaran yang berharga bahwa usaha dan dorongan untuk saling berinteraksi, berkomunikasi dan membentuk pergaulan diantara sesama adalah usaha konsep ta’aruf dalam berbagai dimensi pengertian, baik dalam memperkokoh ikatan persaudaraan antar manusia, membentuk tali silaturrahmi, memperbanyak sahabat maupun dalam membina hubungan erat untuk membentuk keluarga. Selain itu, penjelasan al-Qur’an dalam surat Al-Hujaraat ayat 13 tersebut, juga perintah agar manusia dapat merealisasikan konsepsi hablumminannas dipermukaan bumi ini. Keadaan yang demikian memang sengaja diatur dan dikehendaki oleh Allah SWT, agar dengan cara tersebut keberlanjutan hidup dan kehidupan umat manusia tidak terputus ditelan zaman dan tidak punah di makan waktu sampai pada saat Yang Maha Kuasa Pencipta jagad raya ini menghendaki berakhirnya kehidupan ini (kiamat). Namun, bagaimana metode aplikasi konsepta’aruf yang digariskan Islam, tentu saja melalui jalan yang benar dan lurus yang berlandaskan pada sikap hidup, perilaku dan tindakan yang baik dan mulia (akhlakul karimah). Dengan cara ini kehidupan keluarga yang akan dibentuk dapat merefleksikan wujud keta’atan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Khusus terkait dengan usaha manusia untuk membentuk keluarga, aplikasi konsep ta’aruf akan sangat memainkan peranan penting dalam kehidupan pribadi muslim sehingga kesimpulan akhir yang diambil masing-masing pihak dapat dijadikan key worddalam perjalanan kehidupan keluarga ke depan.
Sumarjati Arjoso (Sanusi, et.all, 1996), menggambarkan beberapa hal penting yang perlu diwacanakan dalam perkenalan melalui konsep ta’aruf sebelum mengambil keputusan untuk menikah, yaitu; (1) perkenalan tentang diri pribadi masing-masing, (2) mengenal keluarga calon pasangan, (3) mengenal seks (dalam artian kesehatan dan kesucian kehormatan) calon pasangan, (4) mengenal cita-cita kehidupan pasangan dan mengenal agama (keyakinan) yang dianut oleh calon pasangan, serta (5) mengenal adat istiadat dan kebudayaan calon pasangan.

Lebih jauh, Sumarjati Arjoso (Sanusi, et.all, 1996) memberi alasan bahwa topik-topik tersebut dimentalkan karena suatu perkawinan bukan semata-mata memadukan jiwa dan tubuh dua insan yang berbeda jenis saja dalam rangka menyalurkan kebutuhan biologis atau hidup bersama, namun juga menyangkut suatu rangkaian tali hubungan antara anggota keluarga besar dan jaringan yang lebih besar lagi, yakni masyarakat. Dalam bahasa berbeda, KH Rahmad Abdullah, menyatakan bahwa dengan saling kenal mengenal calon oleh masing-masing pasangan secara mendalam, maka pengertian, pengetahuan dan keputusan untuk menyatu dalam suatu ikatan suci (pernikahan) akan menjadi bermakna sebagai bagian dari ibadah untuk menjalankan perintah agama (Majalah Izzah, No. 30/Th. 3, 19 Juli—18 Agustus 2002). Di sisi lain, perlu diketahui juga bahwa ta’aruf bukan satu-satunya harga mati bagi seseorang untuk melangsungkan perkawinan, namun konsep ta’aruf akan memberi alternatif bagi seseorang agar dapat mengenali dan mengetahui kepribadian, adat istiadat, latar belakang budaya, kondisi sosial ekonomi, tujuan pembentukan keluarga atau keadaan keluarga masing-masing pasangan sehingga keputusan final untuk menikah tidak menjadi beban mental di kemudian hari. Proses pengenalan yang diajarkan oleh ta’aruf tidak ada paksaan dan pemaksaan, yang ada adalah realitas dan kenyataan. Bila sesuai atau cocok dilanjutkan ke jenjang pernikahan, dan bila tidak merasa cocok tidak menjadi suatu hinaan yang menyebabkan pasangan merasa malu atau dipermalukan.

Dalam penerapannya, bagaimana konsep ta’aruf dilaksanakan untuk mencapai suau hasil yang bermakna dan bernilai ibadah? Secara historis dan praktik ta’aruf tidak memiliki aturan operasional yang disepakati bersama oleh para ulama dan masyarakat muslim, yang ada adalah bagaimana batasan-batasan esensial yang disepakati sehingga tidak menyalahi hukum agama dan hukum sosial. Dalam praktik ta’aruf yang sering terjadi di realitas masyarakat muslim memiliki banyak variasi model aplikasi (graduasi model ta’aruf),  seperti perkenalan melalui sahabat, pengawasan orang tua atau orang kepercayaan keluarga pasangan, pertemuan sendiri tanpa disengaja, berkenalan melalui suatu kegiatan sosial, perjodohan, dan lain sebagainya.
Karenanya dengan aplikasi konsep ta’aruf yang benar sesuai anjuran Islam diharapkan manusia dapat menggapai suatu pengertian bahwa perkawinan adalah benar-benar suatu ikatan suci dalam mengembangkan kehidupan umat manusia dipermukaan bumi ini. Selain itu, juga akan memberi tawaran pada masing-masing calon untuk memahami, menilai, dan menganalisis secara objektif dan subjektif sehingga kesiapan untuk menerima pasangan menjadi pilihan yang tepat.  Proses perkenalan yang dilakukan sebetulnya bertujuan untuk saling mengetahui sejauhmana kesungguhan niat masing-masing pihak untuk berkeluarga, mengenal kepribadian antar pasangan dan menjaga hubungan persaudaraan di antara sesama muslim. Karena itu, nilai-nilai ta’aruf yang berlandaskan pada konteks ajaran Islam akan membuka wacana dan wawasan baru bagi setiap pasangan bahwa perkawinan adalah bukanlah kehidupan sesaat, namun kehidupan yang penuh tanggung jawab selama hayat dikandung badan.


Kamis, 18 Oktober 2012

Mengapa Aku Harus Menikahimu ?


Mengapa Aku Harus Menikahimu?

Ini adalah kisah seorang pemuda tampan yang shalih dalam memilih calon istri, kisah ini tak bisa dipastikan fakta atau tidak, namun semoga pelajaran yang ada didalamnya dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama Muslimah yang belum menikah semoga menjadi renungan.
Ia sangat tampan, taat (shalih), berpendidikan baik, orangtuanya menekannya untuk segera menikah.
Mereka, orangtuanya, telah memiliki banyak proposal yang datang, dan dia telah menolaknya semua. Orangtuanya berpikir, mungkin saja ada seseorang yang lain yang berada di pikirannya.
Namun setiap kali orangtuanya membawa seorang wanita ke rumah, pemuda itu selalu mengatakan “dia bukanlah orangnya!”

Pemuda itu menginginkan seorang gadis yang relijius dan mempraktekkan agamanya dengan baik (shalihah). Suatu malam, orangtuanya mengatur sebuah pertemuan untuknya, untuk bertemu dengan seorang gadis, yang relijius, dan mengamalkan agamanya.

Pada malam itu, pemuda itu dan seorang gadis yang dibawa orangtuanya, dibiarkan untuk berbicara, dan saling menanyakan pertanyaan satu sama lainnya, seperti biasa.
Pemuda tampan itu, mengizinkan gadis itu untuk bertanya terlebih dahulu.
Gadis itu menanyakan banyak pertanyaan terhadap pemuda itu, dia menanyakan tentang kehidupan pemuda itu, pendidikannya, teman-temannya, keluarganya, kebiasaannya, hobinya, gaya hidupnya, apa yang ia sukai, masa lalunya, pengalamannya, bahkan ukuran sepatunya…
Si pemuda tampan menjawab semua pertanyaan gadis itu, tanpa melelahkan dan dengan sopan. Dengan tersenyum, gadis itu telah lebih dari satu jam, merasa bosan, karena ia sedari tadi yang bertanya-tanya, dan kemudian meminta pemuda itu, apakah ia ingin bertanya sesuatu padanya?
Pemuda itu mengatakan, baiklah, Saya hanya memiliki 3 pertanyaan. Gadis itu berpikir girang, baiklah hanya 3 pertanyaan, lemparkanlah.

Pemuda itu menanyakan pertanyaan pertama:
Pemuda: Siapakah yang paling kamu cintai di dunia ini, seseorang yang dicintai yang tidak ada yang akan pernah mengalahkannya?
Gadis: Ini adalah pertanyaan mudah, ibuku. (katanya sambil tersenyum)

Pertanyaan ke-2
Pemuda: Kamu bilang, kamu banyak membaca Al-Qur’an, bisakah kamu memberitahuku surat mana yang kamu ketahui artinya?
Gadis: (Mendegar itu wajah si Gadis memerah dan malu), aku belum tahu artinya sama sekali, tetapi aku berharap segera mengetahuinya insya Allah, aku hanya sedikit sibuk.

Pertanyaan ke-3
Pemuda: Saya telah dilamar untuk menikah, dengan gadis-gadis yang jauh lebih cantik daripada dirimu, Mengapa saya harus menikahimu?
Gadis: (Mendengar itu si Gadis marah, dia mengadu ke orangtuanya dengan marah), Aku tidak ingin menikahi pria ini, dia menghina kecantikan dan kepintaranku. 
Dan akhirnya orangtua si pemuda sekali lagi tidak mencapai kesepakatan menikah. Kali ini orangtua si pemuda sangat marah, dan mengatakan “mengapa kamu membuat marah gadis itu, keluarganya sangat baik dan menyenangkan, dan mereka relijius seperti yang kamu inginkan. Mengapa kamu bertanya (seperti itu) kepada gadis itu? beritahu kami!”
  1. Pemuda itu mengatakan, Pertama aku bertanya kepadanya, siapa yang paling kamu cintai? dia menjawab, ibunya. (Orangtuanya mengatakan, “apa yang salah dengan itu?”) pemuda itu menjawab, “Tidaklah dikatakan Muslim, hingga dia mencintai Allah dan RasulNya (shalallahu’alaihi wa sallam) melebihi siapapun di dunia ini”. Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) lebih dari siapapun, dia akan mencintaiku dan menghormatiku, dan tetap setia padaku, karena cinta itu, dan ketakutannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kami akan berbagi cinta ini, karena cinta ini adalah yang lebih besar daripada nafsu untuk kecantikan.

  2. Pemuda itu berkata, kemudian aku bertanya, kamu banyak membaca Al-Qur’an, dapatkan kamu memberitahuku arti dari salah satu surat? dan dia mengatakan tidak, karena belum memiliki waktu. Maka aku pikir semua manusia itu mati, kecuali mereka yang memiliki ilmu. Dia telah hidup selama 20 tahun dan tidak menemukan waktu untuk mencari ilmu, mengapa Aku harus menikahi seorang wanita yang tidak mengetahui hak-hak dan kewajibannya, dan apa yang akan dia ajarkan kepada anak-anakku, kecuali bagaimana untuk menjadi lalai, karena wanita adalah madrasah (sekolah) dan guru terbaik. Dan seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk Allah, tidak akan memiliki waktu untuk suaminya.

  3. Pertanyaan ketiga yang aku tanyakan kepadanya, bahwa banyak gadis yang lebih cantik darinya, yang telah melamarku untuk menikah, mengapa Aku harus memilihmu? itulah mengapa dia mengadu, marah. (Orangtua si pemuda mengatakan bahwa itu adalah hal yang menyebalkan untuk dikatakan, mengapa kamu melakukan hal semacam itu, kita harus kembali meminta maaf). Si pemuda mengatakan bahwa Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) mengatakan “jangan marah, jangan marah, jangan marah”, ketika ditanya bagaimana untuk menjadi shalih, karena kemarahan adalah datangnya dari setan. Jika seorang wanita tidak dapat mengontrol kemarahannya dengan orang asing yang baru saja ia temui, apakah kalian pikir dia akan dapat mengontrol amarah terhadap suaminya??
Pelajaran akhlak dari kisah tersebut adalah, pernikahan berdasarkan:
  • Ilmu, bukan hanya penampilan (kecantikan)
  • Amal, bukan hanya berceramah atau bukan hanya membaca
  • Mudah memaafkan, tidak mudah marah
  • Ketaatan/ketundukan/keshalihan, bukan sekedar nafsu
Dan memilih pasangan yang seharusnya:
  • Mencitai Allah lebih dari segalanya
  • Mencintai Rasulullah (shalallahu ‘alai wa sallam) melebihi manusia manapun
  • Memiliki ilmu Islam, dan beramal/berbuat sesuai itu.
  • Dapat mengontrol kemarahan
  • Dan mudah diajak bermusyawarah, dan semua hal yang sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam.
Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Wanita dinikahi karena empat hal, [pertama] karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang agamanya baik, jika tidak maka kamu akan tersungkur fakir”. (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)

Muslimahzone.com

Aku Ingin Segera Menikah Demi Menjaga Kesucian Diri


Aku Ingin Segera Menikah Demi Menjaga Kesucian Diri
Setiap insan pasti ingin melengkapi hidupnya dengan menikah bersama orang yang dicintai, sungguh aneh jika ada orang yang tak ingin menikah. Namun sering kali banyak rintangan yang harus dihadapi ketika hendak menikah. Itu adalah ujian dari Allah.

Setiap orang pasti menghadapi ujian yang berbeda-beda. Ada yang masalahnya belum mampu secara materi, karena orangtua, pekerjaan, masih sekolah/kuliah, jodoh yang tak kunjung datang, dan sebagainya.
Munculnya keinginan untuk menikah adalah hal yang patut disyukuri, sebab dengan menikah hidup seseorang menjadi lebih lengkap dan tentunya menikah adalah sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat dianjurkan. Apatah lagi jika niatan menikah muncul karena ingin menjaga kesucian diri. Menikah adalah solusi terbaik untuk menyelamatkan diri dari hal-hal yang bisa menjerumuskan ke dalam perbuatan terlarang.

Namun kembali lagi, berbagai rintangan yang harus dihadapi ketika ingin melangkah ke jenjang pernikahan sering membuat seseorang menjadi gundah gulana.
Tetapi jangan sedih apalagi putus asa, ada janji yang indah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disampaikan melalui lisan Rasul-Nya, bahwa Allah akan menolong mereka yang menikah demi menjaga kesucian dirinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“…janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Qs. Az-Zumar: 53)
Untuk itu, tetap berusaha dan jangan berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah. Berusaha dengan jalan-jalan yang halal, berusaha memperbaiki diri dan berusaha banyak melakukan amal shalih untuk mendekatkan diri kepada-Nya, karena ini adalah sebaik-baik jalan agar diberi pertolongan oleh Allah. Dan jangan lupa berdo’a kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan berprasangka baik kepada-Nya bahwa Dia pasti akan mengabulkan do’a orang yang memohon kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur: 32)
“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Qs. Ghafir: 60)
Insya Allah, jika ikhlas berniat ingin menikah untuk menjaga kesucian diri, kita termasuk orang yang dijanjikan akan ditolong oleh Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR.at-Tirmidzi, no. 1655 dan an-Nasa-I, no. 3120, dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani).
Wallahu a’lam

Muslimahzone.com

Sabtu, 13 Oktober 2012

Kepastian Ambruknya Dollar dan System Fiat Money

A.     Tujuan 
  • Membuktikan permasalahan-permasalahan yang diakibatkan oleh penggunaan uang dollar 
  • Membandingkan keunggulan yang diberikan oleh uang dollar, dan keunggulan yang diberikan oleh uang dinar dirham. 
  • Memberikan fakta tentang kondisi yang sedang dihadapi uang dollar dengan menggunakan system fyat money 
  • Menganalisis terhadap kondisi yang dihadapi oleh Negara Amerika yang menggunakan uang dollar.
  • Membuktikan eksistensi kekuatan mata uang dollar Amerika Serikat yang digunakan oleh Negara Amerika, sebagai mata hard currency. 
B.     Latar Belakang 
  • Data-data perekonomian AS terkini mengungkapkan terdapat masalah. Yaitu anggaran belanja Negara AS mengalami deficit yang sangat besar, pada tahun 2008 pendapatan AS terkumpul US 2,52 triliun , dimana 81 % diperoleh melalui pajak. Sedangkan anggaran belanja mencapai US 2,98 triliun. Artinya ada deficit sebesar US455 miliar.angka defist itu lebih banyak diakibatkan untuk menutupi anggaran perangnya yang sangat besar. 
  • Pada tahun 2009 diperkirakan AS hanya bisa mengeksport sebesar US 1,377 triliun, tetapi nilai impornya jauh lebih besar, yaitu diprediksikan mencapai angka US 2,19 triliun.ini berarti ada deficit sebesar 800 miliar.
  • Amerika juga mempunyai hutang Negara yang sangat besar, mencapai US 10,6 triliun. Meski total hutang AS masih dibaawh nilai PDB, akan tetapi angka hutang ini akan semakin besar setelah banyak orang yang gagal bayar dalam krisis perumahan AS.dan juga bangkrutnya perusahaan-perusahaan besar akibat tidak mampu menjaga liquiditas keuangannya. 
  • Dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi Oleh Amerika, Negara tersebut mencari hutang , dan ditempuh dengan cara mengeluarkan sertifikat (surat hutang). Bank sentral menjadikan sertifikat hutang AS sebagai bagian dari cadangan devisa Negara namun, yang menjadi persoalan adalah melemahnya nilai dollar AS terhadap mata uang Negara-negara lain yang mengakibatkan minat untuk membeli sertifikat hutang pemerintah AS terhatan juga menurun drastic. 
C.     Manfaat 
Dari pemaparan diatas, bahwasannya dapat diteliti penerbitan mata uang kertas yang bila tidak ditopang dengan menggunakan logam emas dan perak, maka akan terjadi banyak permasalahan yang dihadapi, seperti terjadinya inflasi atau deflasi yang sewaktu-waktu akan berubah ubah, tidak seperti menggunakan mata uang dinar dirham yang dari 1000 tahun yang lalu nilainya tidak pernah mengalami inflasi atau deflasi bahkan nilainya tetap stabil sampai saat ini.

Semakin ambruknya nilai mata uang dollar hanya tinggal menunggu waktu saja. Runtuhnya perekonomian dan keuangan AS, bukan hanya akan menghancurkan AS sendiri, tetapi juga akan berdampak terhadap Negara-negara lain, terutama yang menggunakan mata uang dollar atau yang berinvestasi menggunakan dollar, sebab mata uang lain seperti euro, yen atau puondsterling  dan dll, mata uang ini pun sama-sama berbasis pada system fiat money, yang akan menimbulkan gelembung keuangan pada sector non rill sehingga lama kelamaan akan pecah, dan bila ini terjadi, dampak yang dihadapi pun akan dirasakan oleh seluruh dunia. Sebab-sebab terjadinya krisis ekonomi seperti ini pun tidak lain dan tidak bukan yang disebabkan oleh system ekonomi kapitalisme.

Ekonomi kapitalisme ini pun mengusung bahwa pemilik modalah yang memiliki kekuasaan, akibat ketidak merataan distribusi keuangan sehingga mengakibatkan banyak terjadinya kemiskinan dan rakyat kecil yang semakin melarat, karena perputaran keuangan pun banyak berkutat pada sector non rill yang dikuasai oleh para pemilik modal.
 
blogger template by arcane palette